Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (berpakaian APD) meninjau kesiapan Laboratorium Kesehatan Pemprov Sulawesi Tengah yang mulai Senin (4/5) sudah dapat memeriksa sampel swab test dengan RT-PCR. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (berpakaian APD) meninjau kesiapan Laboratorium Kesehatan Pemprov Sulawesi Tengah yang mulai Senin (4/5) sudah dapat memeriksa sampel swab test dengan RT-PCR. (Foto: Courtesy/Humas Pemprov Sulteng)

Kabupaten Sigi berlakukan Jam Malam, antisipasi penularan corona

“Minimal kita sudah menjaga irama orang masuk keluar, physical distancing kita sudah bisa terjaga, minimal belum 100 persen, kita bisa menjaga situasi kondisi COVID ini"

Palu, Sulawesi Tengah, JurnalTerkini.id - Untuk mencegah penyebaran virus corona mendorong Pemerintah Kabupaten Sigi menerapkan pembatasan aktivitas warga dengan pemberlakuan jam malam. Kebijakan itu juga untuk merespon makin bertambahnya jumlah warga terinfeksi corona di Sulteng yang sudah mencapai 112, termasuk tiga diantaranya warga Kabupaten Sigi.

Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta sebagaimana dikutip dari VoA mengatakan kekhawatiran pihaknya adalah kemungkinan akan ada lonjakan kasus virus corona di Kota Palu sehingga perlu mengantisipasi sedini mungkin pergerakan orang masuk dan ke luar.

“Di angka yang kemarin itu kan awalnya Sigi belum ada (kasus corona), terus Sigi masuk tambah satu, terus tambah dua, dengan ketambahan dua itu saya pikir sudah harus mengambil langkah, berarti ini rawan. Kota Palu juga sudah mulai banyak. Nah, kita takut di bulan Mei, mungkin di minggu-minggu terakhir atau minggu kedua Mei akan memuncak, itu yang menjadi ketakutan kami, sehingga perlu ada pembatasan,” jelas Irwan Lapatta (14/5).

Pembatasan dalam bentuk jam malam itu berlaku dari pukul 21 malam hingga pukul 4.30 WITA. Selama rentang waktu tersebut dilakukan penutupan jalan di sepuluh jalur pintu masuk dan keluar di perbatasan kabupaten Sigi dengan kabupaten Poso dan kota Palu. Kegiatan itu melibatkan personel TNI POLRI, Polisi Pamong Praja dan tim Satgas COVID-19 Sigi. Pemerintah desa juga dilibatkan untuk mengawasi jalan-jalan alternatif yang mungkin digunakan untuk keluar masuk ke wilayah kabupaten Sigi.

“Minimal kita sudah menjaga irama orang masuk keluar, physical distancing kita sudah bisa terjaga, minimal belum 100 persen, kita bisa menjaga situasi kondisi COVID ini,” harap Bupati Sigi itu.

Menurutnya selama kegiatan jam malam yang mulai diberlakukan pada 14 hingga 29 Mei itu, warung makan, toko-toko yang menjual sembako tetap diizinkan buka untuk memudahkan masyarakat mendapatkan bahan pangan untuk kebutuhan sahur, tapi tetap memperhatikan aturan jaga jarak, menyediakan sarana cuci tangan, dan mewajibkan penggunaan masker. Masyarakat diimbau untuk hanya berada di luar rumah bila ada kebutuhan yang mendesak.

Melindungi Basis Pertanian dari penyebaran virus corona

Rahmat Saleh, wakil ketua DPRD Sigi (15/5) berharap dengan pembatasan pergerakan orang dan barang melalui kebijakan jam malam itu dapat mencegah penyebaran virus corona di desa-desa yang menjadi basis pertanian dalam rangka ketahanan pangan di Sigi. Tiga kasus positif corona di Sigi,menimbulkan tekanan psikologis yang dirasakan oleh warga di 177 desa/kelurahan yang umumnya bekerja di sektor pertanian.

“Kalau di wilayah pedesaan yang saya tahu persis mereka cukup terintimidasi dengan masalah virus corona ini sehingga banyak warga yang mengurangi juga jam keluar rumah. Namun bagusnya di banyak tempat mereka memilih untuk tinggal di kebun, tidur di kebun, dengan begitu mereka justru bisa melangsungkan aktivitas produksi di lahan pertanian,” jelas Rahmat Saleh.

Berdasarkan Data BPS 2019, jumlah areal tanaman padi di Sigi seluas 14.427 hektar, dengan produktivitas 4,50 ton per hektar.

Rahmat Saleh mengatakan meskipun dampak bencana alam gempa bumi 2018 menyebabkan tiga ribu hektar lahan sawah tidak dapat diolah karena rusaknya irigasi Gumbasa, tapi di tahun 2020 ini, kabupaten Sigi mampu meraih surplus tiga ribu ton beras. Bila hasil panen itu tetap bertahan di kabupaten Sigi, maka wilayah itu akan memiliki cadangan beras yang cukup untuk tiga bulan ke depan.

“Hanya yang harus dilakukan memastikan surplus itu tetap tertahan di wilayah kabupaten nah kalau misalnya kelebihan itu tetap juga mengalir ke luar maka Sigi tetap saja berpotensi untuk kekurangan pangan,” jelasnya.

Dia menambahkan umumnya desa-desa sudah mengambil langkah pencegahan penyebaran virus corona dengan membentuk posko dan relawan penanganan COVID-19, termasuk dengan mengalokasikan dana desa untuk pengadaan cadangan pangan dua hingga tiga ton beras.

Pusat Data Informasi Bencana (PUSDATINA) Covid-19 Sulteng menyebutkan hingga 15 Mei 2020, jumlah kasus positif corona di Sulteng mencapai 112. Dari jumlah itu, 21 dinyatakan pulih dan empat meninggal dunia. [voaindonesia.com]

Beri nilai
(0 Pilih)

Beri komentar

Pastikan Anda memasukkan semua informasi yang diperlukan, ditandai dengan tanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.