Bacok, salah seorang warga RW 04, Teluk Lekup, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun menunjukkan letak Quary B milik PT WPK yang dikhawatirkan berdampak pada masyarakat sekitar. Bacok, salah seorang warga RW 04, Teluk Lekup, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun menunjukkan letak Quary B milik PT WPK yang dikhawatirkan berdampak pada masyarakat sekitar. foto: rdi

Warga Teluk Lekup cemaskan dampak perluasan area penambangan WPK

"Ini yang paling penting, keselamatan jamaah masjid dan anak-anak TPQ"

Karimun, www.jurnalterkini.id - Warga Teluk Lekup, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau mulai mencemaskan dampak perluasan area penambangan perusahaan granit PT WPK.

"Dampaknya mulai terasa, mulai dari bunyi mesin alat berat, debu yang ditimbulkan sampai ke pemukiman. Dan yang kami cemaskan masalah risiko ledakan batu granit yang bisa saja melenting ke rumah warga," kata salah seorang warga RW Teluk Lekup, Aslizar di Pongkar, Kecamatan Tebing.

Aslizar juga mengkhawatirkan lentingan batu granit bisa menjangkau Masjid Al Muhajirin dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) yang berdiri sekitar 250 meter dari Quary B.

"Ini yang paling penting, keselamatan jamaah masjid dan anak-anak TPQ," kata dia.

PT WPK membuka lahan penambangan baru yang disebut dengan Quary B yang jaraknya beberapa ratus meter dari permukiman warga.

Namun demikian, kegiatan produksi belum dimulai karena pihak perusahaan harus mendudukkan rencana eksploitasi granit dengan warga setempat.

"Terakhir, pada 2019 ada pertemuan di kantor camat antara pihak perusahaan dengan warga. Ada beberapa poin yang disepakati, tapi saya lupa poin-poinnya, yang jelas tentang rencana operasional di Quary dan bentuk kompensasi yang diberikan perusahaan," tuturnya.

Meski sudah ada pertemuan, kata dia, pihaknya sampai sekarang tidak mengetahui seperti apa implementasi dari kesepakatan itu. Soalnya, lanjut dia, pihaknya sama sekali tidak mendapatkan kompensasi atau ganti rugi apapun dari perusahaan.

Dinding rumah warga yang retak akibat aktivitas di Quary B PT WPK
Dinding rumah warga yang retak akibat aktivitas di Quary B PT WPK

Dia menjelaskan jumlah warga di RW 04 sekitar 200 KK, tapi dari informasi yang ia peroleh, yang masuk dalam daftar penerima kompensasi atau ganti rugi sebanyak 23 KK, dan dituangkan dalam bentuk perjanjian di depan notaris.

"Saya heran, kenapa hanya 23 KK. Tidak semua warga walaupun rumahnya masih dalam satu deretan," katanya.

Hal yang sama disampaikan warga lainnya, Bacok yang mengatakan pemerintah daerah turut serta menyelesaikan permasalahan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan granit di Quary B tersebut.

"Dampaknya debu yang mengotori udara, belum lagi getaran yang ditimbulkan dari ledakan batu granit," kata Bacok.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Kepri Satu, Jantro Butar Butar mengaku pihaknya telah menerima laporan dari warga perihal kekhawatiran dari penambangan granit di Quary B.

"Datanya ada 12 KK, tapi yang resmi membuat laporan ke kita sebanyak empat KK. Mereka sama sekali belum menerima kompensasi ataupun ganti rugi," kata Jantro.

Jantro berharap pihak perusahaan memberikan kompensasi bagi setiap warga yang terkena dampak dari aktivitas penambangan granit di Quary B, tanpa terkecuali.

"Dampak itu macam-macam, mulai dari debu, getaran akibat ledakan, sampai yang terburuk lentingan batu granit saat proses blasting," kata dia.

Beri nilai
(1 Pilih)

Beri komentar

Pastikan Anda memasukkan semua informasi yang diperlukan, ditandai dengan tanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.